GUSDUR SANG SUFI UNIK

Asalamualaikum segenap semua sesepuh disini dan seluruh
songgobumi.ijinkan saya share.,
Kharisma Gus Dur, setelah
wafatnya, ternyata melebihi
realitas kehidupannya.
Keharuman spiritual yang
eksotis, begitu lekat dan
fenomenal. Hal ini tentu
berhubungan dengan kondisisosiologis masyarakat NU yang seringkali membuat standar
maqom spiritual seseorang
diukur dengan kharisma dan
keanehan yang luar biasa
(khariqul ‘adat) berupa
karomah-karomah, walau pun
dalam perspektif Sufisme standar
tersebut tidak baku.
Dalam khazanah tasawuf, tradisi
kewalian seseorang sangat ketat
dengan aturan-aturan gnostik
(ma’rifatullah) yang teraksentuasi
dalam sikap ubudiyah. Ada dua
model kewalian dalam sosiologi
Tasawuf, di satu sisi seorang wali
ada yang sangat popular dengan
hal-hal luar biasa di luar
jangkauan nalar, ada pula yang
sangat tersembunyi, bahkan
kehebatan karomahnya tidak
dikenal oleh public sama sekali.
Namun, Gus Dur memiliki
fenomena spiritual yang langka
dibanding kiai-kai lain di Jawa,
karena harus muncul dalam
gebrakan sejarah yang penuh
warna. Dari sosoknya sebagai
budayawan, seniman, kiai,
politisi, pemikir, pembaharu, dan
seorang yang mampu
mengangkat khazanah
tradisional dalam dialog
cosmopolitan yang actual. Dan
spirit yang membawa sosoknya
sedemikian kuat itu, dilandaskan
pada spiritualitas yang sangat
kaya dengan kebebasan,
kemerdekaan, penghargaan
kemanusiaan, sekaligus
askestisme yang tersembunyi
dalam jiwanya: Dunia Sufi.
Sufisme Gus Dur yang selama ini
hanya difahami oleh massanya,
melalui kebiasaan ziarah ke
makam para wali, ungkapan-
ungkapan yang controversial,
dan spontanitasnya yang
inspiratif, serta garis keturunan
seorang Ulama dan wali yang
terkenal, Hadhratusy Syeikh
Hasyim Asy’ari, pendiri NU.
Namun, laku Sufistik Gus Dur
justru terletak pada sikap dan
konsistensinya terhadap nilai-nilai
tasawuf yang sama sekali tidak
terpaku pada simbolisme tasawuf
sebagaimana gerakan kaum Sufi
modern saat ini.
Komunikasi Ilahiyah yang selama
ini terjalin adalah “hubungan
rahasia” yang sunyi di tengah-
tengah hiruk pikuk dunia, dan
melakukan gerakan terlibat
dengan kehidupan nyata,
dengan keberanian mengambil
resiko bahaya, demi
mempertahankan prinsip
utamanya. Namun di sisi lain,
ada konser kebahagiaan yang
berirama indah dalam musikal
dzikrullah, saat Gus Dur sedang
sendiri, menyepi (khalwat) dalam
jedah kesehariannya. Dua sisi
hiburan spiritual yang boleh
disebut sangat langka: Ramai
dalam sunyi, dan sunyi dalam
ramai.
Pengaruh dari nuansa yang
diyakini itu, Gus Dur justru
mampu melakukan terobosan
yang luar biasa, begitu cepat.
Dalam 20 tahun gerakan
Gusdurian, masyarakat NU yang
jumlahnya begitu besar terbuka
lebar dalam dialog kemodernan,
seperti sebuah gerakan konser
musik yang dinamik. Maka
liberalitas tradisionalnya muncul
dengan kuantum melebihi
zamannya. NU menjadi
organisasi masyarakat muslim
modern yang mengejutkan, yang
disebut oleh Nakamura sebagai
organisasi Islam paling
demokratis di dunia.
Namun seluruh dinamika
gerakan Gus Dur tidak lepas dari
nilai-nilai tradisional Sufistiknya
yang transformative. Semisal Gus
Dur yang begitu kental dengan
hikmah-hikmah Ibnu Athaillah
as-Sakandary yang tertuang
dalam kitab Sufi Al-Hikam –
bahkan hafal di luar kepala –
dalam membangun masyarakat
Islam dalam konteks ke-
Indonesiaan.
Kitab Al-Hikam sangat dikenal
oleh para Ulama Sufi sejak abad
tujuh hijriyah, menjadi manual
bagi “Sufisme Pesantren” tingkat
tinggi, sebagai kajian sufi paska
Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-
Risalatul Qusyairiyah karya Abul
Qasim Al-Qusyairy, maupun Al-
Luma’, karya Abu Nashr as-
Sarraj.
Kekentalan Gus Dur dengan Al-
Hikam memberi warna kuat,
terutama dua wacana disana
yang berbunyi: “Janganlah
engkau bergabung atau berguru
dengan orang yang kata-kata
dan perilaku ruhaninya tidak
membangkitkan dirimu dan
menunjukkan padamu menuju
Allah.” Konon, nama Nahdhatul
Ulama mendapatkan inspirasi
dari hikmah tersebut, sekaligus
menjadi standar apakah Ulama
NU kelak konsisten dengan
kebangkitan menuju Allah atau
menuju dunia?
Kemudian, hikmah lain yang
begitu kental, adalah,
“Pendamlah dirimu di tanah
sunyi, karena biji yang tak
pernah terpendam tidak akan
tumbuh dengan sempurna.”
Sebuah wacana yang sangat kuat
tekanannya dalam menggugat
kemunafikan beragama, dan
segala gerakan industri ekonomi
dan politik atas nama agama,
yang akhir-akhir ini begitu
menguat beriringan dengan
gerakan formalisme keagamaan.
Menyembunyikan hubungan
antara hamba dan Allah sebagai
rahasia kehambaan adalah
mutiara Sufi yang agung.
Sebaliknya pamer pengalaman
beragama, bahkan menjurus
pada riya’ adalah bentuk syirik
yang tersembunyi. Karena itu,
dalam Al-Hikam juga disebutkan,
“Nafsu dibalik maksiat itu nyata
dan jelas, tetapi nafsu di balik
taat itu, sangat tersembunyi, dan
terapi atas yang tersembunyi
sangatlah sulit.”
Demokrasi dan Sufisme
Disinilah Sufisme menjadi
penghubung efektif, ketika
demokrasi diterjemahkan dalam
hubungan saling menghargai di
tengah pluralitas yang sedang
bergerak. Sebab, kebebasan,
penghargaan terhadap hak-hak
kemakhlukan, kecintaan sesama,
kehambaan individu, dan
sejumlah nilai-nilai yang bisa
mempertemukan perspektif
bersama hanya pada Sufisme.
Sebab hanya Sufisme-lah yang
melihat dua titik pandang: Allah
dan manusia. Pandangan-
pandangan Sufistik itulah yang
melampaui “halal-haram”,
sehingga hubungan kebangsaan
tidak dihorisonkan pada
belahan-belahan yang saling
berhadapan, hitam dan putih. Di
sini, jika tidak kita cermati,
lompatan-lompatan pemikiran
Gus Dur terasa konstroversial,
karena di satu sisi ia harus
menjadi Kiai Bangsa, di lain pihak
ketika ia harus menjadi Presiden.
Ketika ia masih menjadi presiden
ada posisi dualistik. Posisinya
sebagai Kiai Bangsa adalah posisi
Sufistik dalam membangun
kearifan hidup bersama,
sementara tugas-tugas formal
kepresidenannya, jelas
berhubungan dengan amanat
yang dilimpahkan oleh MPR
kepadanya. Namun, ketika posisi
Kiai Bangsa dinilai lebih menonjol
ketimbang kepresidenannya,
tiba-tiba gugatan-gugatan
muncul sampai pada titik paling
kritis. Suatu gugatan “halal-
haram” dari lawan-lawan
politiknya.
Mengapa Gus Dur lebih banyak
menonjolkan Kiai Bangsa
ketimbang kepresidenannya?
Karena kebutuhan bangsa saat
ini bukanlah kebutuhan
formalitas dan “topeng-topeng”
dibalik birokrasi dan
penyelenggaraan negara. Setelah
tiga dasawarsa bangsa ini
dibelenggu oleh formalisme dan
ritualisme monopolitik, maka,
pertama-tama bangsa ini
membutuhkan pencerahan jiwa
agar bisa kembali ke fitrah
kebangsaannya.
Tanpa kesadaran psikhologis
akan hakikat berbangsa,
demokrasi akan gagal dibangun,
apalagi oleh sekadar mayoritas
dan minoritas dalam perolehan
suara, menang dan kalah belaka.
Berarti, Gus Dur tetap
mengambil wilayah hati nurani,
untuk menjadi jiwa demokrasi.
Disebut hati nurani disini,
bukanlah ambisi-ambisi batin
yang diaksentuasikan dalam
jeritan protes atau
pemberontakan rasional. Protes-
protes apa pun namanya, selalu
merujuk pada ketidakadilan.
Tetapi penegakan keadilan
belaka, ternyata tidak cukup
untuk menegakkan rumah
kebangsaan. Karena fondasi
rumah kebangsaan kita adalah
cinta dan kasih sayang, bukan
keadilan. Kasih sayang atau
rahmat, ketika
diimplementasikan dalam proses
berdemokrasi, akan melahirkan
penghargaan terhadap pluralitas
secara adil dan egaliter.
Sementara penegakan keadilan
tanpa rahmat, hanya melahirkan
kemenangan penuh dendam.
Inilah yang ingin dihindari Gus
Dur, ketika dulu mengadili
Soeharto, jangan sampai timbul
rasa dendam terhadap tokoh
Orba tersebut. Sebab siapa pun
merasa tidak mendapatkan
ketidakadilan ketika ia harus
dihukum, namun harus pula
menerima dendam kemanusiaan.
Dalam kisah legendaris, yang
dipresentasikan secara dramatis
antara Sunan Kalijogo dengan
Syeikh Siti Jenar, terpantul suatu
cerminan, bahwa eksekusi
terhadap Syeikh Siti Jenar, sedikit
pun tidak mengurangi rasa cinta
Sunan Kalijogo terhadap
kawannya itu. Karena,
sesungguhnya jiwa dan hati
Sunan Kalijogo dan Syekh Siti
Jenar berada dalam dataran
yang sama. Dan sebaliknya, sikap
demokrat sejati Syeikh Siti Jenar
yang secara “berani”
menghadapi eksekusi, adalah
karena penghargaannya
terhadap konstitusi dan hukum
para Wali.
Maka, di dalam drama eksekusi
tersebut, prosedur-prosedur
formal tidak boleh
mengintervensi aturan-aturan
jiwa yang menjadi batin dari
suatu keputusan. Karena
intervensi rasionalisme terhadap
spiritualisme bisa melahirkan
emosi-emosi negatif, sebalikinya
intervensi spiritualisme terhadap
rasionalisme bisa melahirkan
kalim-klaim sakralisme dalam
bentuk sekularisme yang maniak.
Oleh sebab itu, dendam
terhadap tokoh yang bersalah,
bisa disebut sebagai “dosa
demokrasi” ketika penegakan
hukum sebagai salah satu lemen
demokrasi, justru ditaburi oleh
“balas dendam”. Sementara
fakta yang kita lihat dalam
proses demokratisasi kita, justru
ada elemen lain yang ditolerir
dalam proses penegakan hukum,
yaitu proses dendam sejarah.
Kenyataan ini menunjukkan
adanya pertanyaan besar yang
belum dijawab oleh mereka yang
ingin menegakkan demokrasi itu
sendiri. Nilai-nilai dan roh
demokrasi model apakah yang
hendak ditegakkan bagi
demokrasi Indonesia?
Sebagai suatu wacana, Sufisme
bisa disebut sebagai wacana baru
bagi proses penegakan wacana
kedemokrasian kita. Walau pun
begitu, — setidak-tidaknya, —
kita melihat sebagian praktek
Sufisme bagi demokrasi itu ada
dalam perilaku kepemimpinan
Gus Dur. Terlepas suka maupun
tidak, sangat tidak demokratis
manakala kita bersikap apriori
begitu saja terhadap gerakan
Demokrasi Gusdurian, sebelum
kita memahami secara tulus apa
dan siapa Gus Dur dalam
konteks kebudayaan dan
hakikat-hakikat keagamaan. *
Gus Dur adalah Tokoh
Pluralisme, terserah jika ada
orang yang tidak suka dengan
sebutan ini, termasuk para
pecintanya sendiri. Konon,
Djohan Efendi, sahabat setia Gus
Dur, pernah diminta Gus Dur
agar jika ia kelak wafat, nisannya
ditulis “Di Sini dikubur Sang
Pluralis”. Terlepas pesan itu
benar diucapkan Gus Dur atau
tidak, dan tak peduli masyarakat
memperdebatkan maknanya,
tetapi beliau orang yang selalu
ingin memandang manusia,
siapapun dia dan di manapun
dia berada, sebagai manusia
yang adalah ciptaan Tuhan.
Sebagaimana Tuhan
menghormatinya, Gus Dur juga
ingin menghormatinya.
Sebagaimana Tuhan mengasihi
makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin
mengasihinya.”Takhalquu bi
Akhlaq Allah” (berakhlaklah
dengan akhlak Allah), kata
pepatah sufi. Sejauh yang saya
tahu, Gus Dur tak banyak bicara
soal wacana Pluralisme berikut
dalil-dalil teologisnya. Tetapi
mengamalkan, nnempraktikkan
dan memberi mereka contoh
atasnya. Pluralisme jauh lebih
banyak dipraktikkan dalam
kehidupan sehari-hari Gus Dur
dibanding diwacanakan.
Kalaupun ia diminta dalil agama,
ia akan menyampaikan ayat al
Qur’an ini: “Wahai manusia, Aku
ciptakan kalian terdiri dari laki-
laki dan perempuan. Dan Aku
jadikan kalian berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku, agar kalian
saling mengenal. Sesungguhnya
manusia yang paling mulia di
antara kalian di mata-Ku, ialah
orang yang paling bertaqwa
kepada-Ku”.
“Li Ta’arafu” (saling mengenal),
tidak sekedar tahu nama, alamat
rumah, nomor handphone, atau
tahu wajah dan tubuh yang lain.
Saling mengenal adalah
memahami kebiasaan, tradisi,
adat-istiadat, pikiran, hasrat yang
lain, yang berbeda, yang tak
sama. Lebih dari segalanya “li
ta’arafu” berarti agar kalian
saling menjadi arif bagi yang lain.
Yang paling mulia di hadapan
Tuhan adalah yang paling taqwa,
bukan yang paling gagah atau
cantik, bukan yang paling kaya
atau rumah megah. Taqwa
bukan sekedar sering datang ke
masjid atau ke majlis ta’lim,
membaca kitab suci, memutar-
mutar tasbih, bangun malam,
atau puasa saban hari.Tetapi
lebih dari itu taqwa adalah
mengendalikan amarah, hasrat-
hasrat rendah, menjaga hati,
tidak melukai, tidak mengancam,
ramah, sabar, rendah hati dan
sejuta makna kebaikan kepada
yang lain dan kepada alam.
Semua itulah makna taqwa yang
dipahami Gus Dur. Maka Gus
Dur bukan sekedar menghargai
atau menghormati manusia yang
berbuat baik, melainkan juga
menyambutnya dengan rendah
hati dan rengkuhan yang hangat.
Sebaliknya, ia akan menentang
siapa saja yang merendahkan
martabat manusia, apalagi
menyakiti, mengurangi dan
menghalangi hak-hak mereka. la
akan membela mereka yang
martabat kemanusiaannya
direndahkan, mereka yang hak-
haknya dikurangi, dipasung,
disakiti dan ditelantarkan.
Ketika para pengikut Ahmadiah
diusir dan masjid-masjid mereka
dirobohkan, Gus Dur hadir
bersama mereka. Ketika Gereja-
gereja dilempari batu, ia
berteriak “jangan”. Ketika Inul
Daratista dihujat ramai-ramai
karena dia bergoyang-goyang
dan meliuk-liukkan tubuhnya
bagai bor, ia “memeluk”nya
dengan hangat. Ketika Dorce
disoraki karena berganti kelamin,
ia mengajaknya bicara dengan
lembut dan penuh kasih. “Jika itu
adalah dirimu, teruslah bekerja”,
katanya. Ketika urusan gambar
tubuh polos perempuan
(pornografi) hendak diserahkan
kepada Negara, ia
berdemonstrasi bersama isteri
tercintanya; Shinta Nuriah dan
bersama-sama mereka yang
menghargai kemanusiaan. Ketika
orang-orang Thionghoa meminta
hari raya Imlek dan Barongsae,
ia memberikannya dengan tulus.
Meski tak bisa melihat dengan
matanya, ia hadir menyaksikan
tarian-tarian singa itu dan
bertepuk tangan. Gus Dur
senang.
Seringkali kita melihat sikap
perlawanan dan pembelaan itu
dilakukannya sendirian. la
berjalan sendiri, meski ia harus
mempertaruhkan jiwanya. la tak
peduli. Dalam perlawanannya
terhadap pembredelan tabloid
Monitor dan pembelaannya
terhadap Salman Rusydi dalam
kasus bukunya Satanic Verses,
yang bikin heboh itu, misalnya,
Gus Dur tak menemukan mata
lain yang penuh pengertian. la
berjalan sendiri. Seorang sufi
mengatakan “ia yang jiwanya
telah mencapai kesadaran yang
matang, bantuan eksternal tak
lagi diperlukan”. Dan Gus Dur
sanggup menjalaninya seorang
diri dengan tegar, karena ia telah
matang.
“La Yakhaf Laumata Laa-im” (ia
tak pernah takut pada mata
yang membenci). Kata Gus Dur:
“Di tempatkan di urutan
manapun, Muhammad bin
Abdullah tetap saja sang
penghulu para nabi dan utusan
Tuhan, Insan Kamil”.
Bagi Gus Dur semua manusia
adalah sama, tak peduli dari
mana asal usulnya, apa jenis
kelamin mereka, warna kulit
mereka, suku mereka, ras dan
kebangsaan mereka. Yang Gus
Dur lihat adalah bahwa mereka
manusia seperti dirinya dan yang
lain. Yang ia lihat adalah niat
balk dan perbuatannya, seperti
kata Nabi: “Tuhan tidak melihat
tubuh dan wajahmu, melainkan
amal dan hatimu”.
Gus Dur bukan tidak paham
bahwa ada yang keliru, ada yang
tidak ia setujui atau ada yang
salah dari mereka yang
dibelanya. Gus tetap saja
nembela mereka. la membela
karena tubuh mereka diserang
dan dilukai hanya karena baju
agamanya yang berwarna lain,
harta mereka dirampas
semaunya, ekspresi-ekspresi diri
mereka dihentikan secara paksa
oleh negara atau direnggut
dengan pedang oleh otoritas
dominan dan kehormatan
mereka diinjak-injak. Padahal
mereka tak melakukan apa-apa.
Membela kehormatan adalah
perjuangan besar.
Bagi Gus Dur, ekspresi¬ekspresi
diri, personal, individual, yang
dianggap sebagian orang sebagai
tak bermoral, tak boleh
melibatkan Negara, tak boleh
diintervensi kekuasaan, tetapi
harus diselesaikan sendiri oleh
masyarakat dengan cara-cara
yang mereka miliki dan dengan
mengaji yang sungguh-sungguh,
sampai khatam dan dengan
ketulusan.
Bagi Gus Dur, keyakinan dan
pikiran tak bisa dinamai tak bisa
diberi tanda. Pikiran adalah
misteri yang tersembunyi. la
bagaikan burung yang terbang di
langit lepas. Tuhanlah yang
menganugerahkan pikiran-
pikiran pada hamba-hamba-Nya.
Dialah Pemilik nafas setiap yang
hidup dan Dialah yang akan
menanyainya kelak, bila tiba
masanya. Karena itu, hanya
Dialah yang berhak menamainya
dan menghakiminya, tidak yang
lain. Kata Rumi dalam Fihi Ma
Fihi :
“Tak ada kemampuanmu
menjauhkan pikiran-pikiran itu
meski dengan seratus ribu kali
rekayasa berkeringat”.
Itulah sikap seorang yang telah
memiliki batin yang bebas. ltulah
sifat seorang sufi, seorang bijak-
bestari yang jiwanya mampu
menembus kedalaman makna
kata-kata Tuhan. Kata-kata-Nya
memiliki dan menyimpan berjuta
makna dan tak terbatas.
Pemaksaan atas pikiran dan
keyakinan orang tak akan
menghasilkan apa-apa, sia-sia,
kecuali membuat orang dan
keluarganya menjadi sakit,
menderita, dan menghambat
kemajuan orang dan peradaban
manusia. Tak ada cara lain untuk
menundukkan orang lain kecuali
melalui bicara manis, tanpa
marah-marah dan dengan otak
yang cerdas. Jika tak tunduk,
biarkan masing-masing berjalan
sendiri-sendiri, sambil katakan
saja “anda adalah anda dan aku
adalah aku. Wassalam”.
Tindakan dan sikap itu, menurut
Gus Dur, sesungguhnya telah
diajarkan oleh Islam dan para
Nabi-nabi sejak ribuan tahun
lalu. la sering mengutip sumber
literature Islam klasik yang bicara
mengenai hak-hak individu.
Salah satunya adalah AI-
Mustashfa, karya Imam Abu
Hamid al-Ghazali. Sufi besar ini
mengatakan bahwa tujuan
aturan agama adalah
memberikan jaminan
keselamatan keyakinan orang,
keselamatan fisik, keselamatan
profesi, kehormatan tubuh dan
pemilikan harta. Al-Ghazali
menyebut lima prinsip dasar
perlindungan ini sebagai “al-
Kulliyyat al-Khams”. Orang
sering menyebutnya “Magashid
al Syari’ah” (tujuan-tujuan
pengaturan kehidupan). Lima
prinsip ini merupakan pemberian
Tuhan pada setiap manusia yang
tak ada seorang manusiapun
berhak mengurangi atau
menghilangkannya. lnilah basis
fundamental (al rukn al asasi)
pikiran-pikiran dan Iangkah-
langkah Gus Dur. Meskipun Gus
Dur membaca dan mengerti,
tetapi ia tidak mengutip
pandangan atau sumber dari
Barat atau Yahudi, seperti
dituduhkan sebagian orang. Ia
menggalinya dari sumber tradisi
Islam sendiri, dan ia mampu
menginterpretasikan dengan
cara-cara yang memukau dan
genuine, sejalan dengan konteks
kehidupan yang selalu bergerak.
Ia memang sangat kaya dengan
referensi tradisi Islam klasik ini
berikut perangkat analisisnya:
bahasa, sastra, logika, filsafat
sosial, dan metode-metode
keilmuan.
Melalui penjagaan atas lima
prinsip dasar kemanusiaan
universal tersebut, Gus Dur
memimpikan berkembang dan
tersebarnya persaudaraan
manusia atas dasar kemanusiaan
(ukhuwwah Insaniyyah), tanpa
dibatasi sekat-sekat primordial.
Ini menurut saya sesungguhnya
merupakan gagasan para sufi
besar. Para sufi yang sejumlah
namanya disebutkan di atas,
adalah orang-orang yang paling
vocal menyuarakan gagasan
pluralisme dan persaudaraan
universal itu. Tak ada keraguan
sedikitpun di hati mereka pada
prinsip utama agama bahwa
tidak ada di alam semesta ini
kecuali Tuhan Yang Satu yang
kehadapan-Nya seluruh yang
mawjud tunduk. Dan seluruh
yang mawjud (ada) sejak ia ada
sampai keberadaannya tercabut,
selalu dan terus mencari-cari Dia
melalui jalan dan bahasa yang
berbeda-beda.
Maka kebhinekaan realitas alam
semesta ini seharusnya tidak
menghalangi setiap manusia
untuk memahami pikiran, bahasa
dan kehendak-kehendak
manusia yang lainnya. Para sufi
memandang alam semesta yang
beragam dan yang seluruhnya
mengandung keindahan sebagai
“tajalli” Tuhan, perwujudan
rahmat dan keagungan-Nya di
alam semesta. Keberanekaan
berasal dari Tuhan. Dialah Sang
Penciptanya. Ibnu Athaillah,
nama sufi besar yang dikagumi
Gus Dur, banyak bicara soal
Kesatuan Semesta, meneruskan
gagasan Ibnu Arabi.
Nah, lagi-lagi di sini kita
menemukan jalan yang
ditempuh Gus Dur. Gagasan-
gagasan dan tindakan-tindakan
pluralismenya ternyata
berangkat dari tradisinya sendiri.
la tekun mengaji kitab¬kitab
klasik raksasa dan primer sampai
khatam.
Sayang, kitab-kitab ini amat
jarang dibaca orang atau dibaca
tetapi hanya sampai kulit luar,
yang tertulis, yang literal,
harfiyah, dan tak khatam, tak
selesai

Iklan

218 thoughts on “GUSDUR SANG SUFI UNIK”

  1. sepi dalam ramai,ramai dalam sepi..
    ,beliau dulu saat jadi presiden pernah mau di baiat jadi mursyid besar torekoh asia oleh para syech2 sepuh di irak tp beliau tolak karena jabatan presiden.Walau begitu ternyata dgn sendirinya ↑ beliu sudah jadi mursyid agung.

    Suka

  2. kang aran sholeh bagus atine
    Kerono mapan seri ngilmune
    Laku thoriqot lan ma’rifate
    Ugo haqiqot manjing rasane
    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
    Alqur’an qodim wahyu winulyo
    Tanpa tinulis biso diwoco
    Iku wejangan guru waskito
    Ditancep ake neng jero dodo

    cupliakan sii’r GusDUR
    Yg stiap kata emag bs membtuhkan pemahan dlm rasa

    Suka

  3. kawruh2 yg dijalankan mbah Gus Dur sebenarnya sdh mjd pandangan hidup org Jawa sejak ribuan tahun yg lalu . . .
    tanah Jawa bisa ‘madahi’ /menerima semua pemahaman yg berbeda2 yg msk ke Jawa, dan kita tdk pernah ngutak atik perbedaan2 yg ada, yg mjd prinsip utama:
    BHINEKA TUNGGAL IKA
    TAN HANA DHARMA MANGRUA
    (tak ada dharma yg mendua !!!!)
    DHARMA dlm artian menghormati dan melayani SATU WUJUD TUHAN, ALAM SEMESTA BESERTA MAKHLUQ2 DIDALAMNYA.

    Suka

  4. WUJUD TUHAN sebagai ALAM SEMESTA beserta MAKHLUQ2 DIDALAMNYA
    harus dipahami dg MATA BATHIN.
    MATA DHOHIR hanya melihat perbedaan2.
    KEARIFAN LOKAL memiliki kadar yg kental karena dipengaruhi ENERGI GEOGRAFIS yg diciptakan TUHAN dengan RAHASIA2 yg manusia tdk mengetahui.

    JIWA GOTONG ROYONG
    PASRAH SUMARAH,
    tp tdk lepas dari SETIYAR
    ELING lan WASPADA
    OJO DUMEH
    dll . . .

    adalah bentuk2 KEARIFAN LOKAL yg mulai dilupakan dibumi NUSANTARA.

    Suka

  5. kumantil ati lan pikiran
    Mrasuk ing badan kabeh jeroan
    Mu’jizat rosul dadi pedoman
    Minongko dalan manjinge iman
    . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
    Kelawan allah kang moho suci
    Kudu rangkulan rino lan wengi
    Ditirakati di riyadhohi
    Dzikir lan suluk jo nganti lali
    . . . . . . . . . . . .
    . . . . . . . . . . . .
    Ayo nglakoni sekabehane
    Allah kang bakal ngangkat drajate
    Senajan ashor toto dhohire
    Ananging mulyo maqom drajate
    . . . . . . . . .
    . . . . . . . . .

    Suka

  6. sikap2
    ADAB SOPAN SANTUN,
    MENGHORMATI ORG2 YG DITUAKAN
    MENGHORMATI GURU2 KITA
    MENGHORMATI ORG TUA KITA
    MENGHORMATI LELUHUR2 KITA
    BERBICARA SANTUN
    BERFIKIRAN POSITIP
    TIDAK BERPRASANGKA BURUK (su ‘udzon)
    MENGHARGAI YG LBH MUDA
    MENGHARGAI MAKHLUK LAIN
    (hewan, tumbuh2-an, makhluq halus dll)
    merupakan ajaran2 KEARIFAN LOKAL yg sangat bijaksana dan LUAR BIASA

    salam.

    Suka

  7. Pas nya tuntunan rosul mas..la sing berat istikomahnya itu lo.ibarat hidup hrs punya suplemen penyemangat,.goleki guru yg bisa nuntun istikomah betah,kalau gak ono guru ,jalaran anak bojo yo bisa jadi awal jalan istikomah..

    Suka

  8. kmrn perkembangane piye mas Marinton?

    kang Ahmed yo jalani pelan2 n nikmati perjalanan, dan lihat keramaian yg ada xixixi

    Suka

  9. lha iyo kang orang jawa juga paling gampang menerima peradaban dan budaya mana saja to.makanya sampe orang luar negeri bikin program yg namanya java.karena memang bisa dimasukkan aplikasi apa saja.mungkin juga salah kang.cuman pangangen-angene wong bodho

    Suka

  10. Assalamu’alaikum semuanya… Smg tansah sehat & sejahtera selalu dhohir & bathin, amin. Absen, salam-salim trs mislep dulu. Ma’f ya…noto jdwal ulang kegiatan jd gak bs brtegur sapa dg dulur2. Smg nnt mlm bs, amin. Salam

    Suka

  11. Dunia sdh tua,lbh tua dr nenek tua,kenapa kau buru dunia yg renta kenapa….?lihatlah yg sll muda,para bidadari di surga,dg senyum bunga2 jamaliyahNya,tp kenapa kalian berpaling dr jaga?lalu berkhayal ttg surga?lalu bermimpi ttg janji.sejak kpn yg begitu,sjk kpn yg bgn,sjk kt bermimpi ya…begitu..ha…ha…ha

    Suka

  12. assalamualaikum para sedulur n sesepuh yang saya hormati
    1. om dafa
    2. om de war
    3.om wong edan sek sedino
    4. om langit biru
    5. om lintang sumirat

    Suka

  13. km syahdan..salam salim..gimana kabarnya..

    Pakde war..janne gk balas dendam..sy mencoba tips dari njenengan itu lho..tidak menyiapkan buat buko sebelum adzan .tapi ya gitu makan dikit we terasa dah penuh ..

    Suka

  14. nggak om dafa maaf sedari awal saya tetep gak berubah nickname nya sesuai fb saya klo njenengan punya fb bisa di lihat nama saya sesuai nick itu hahahhahahahhaah

    Suka

  15. Senyum…………, ketawa hahahaha relaks relaks relaks syukuri yg ada terimakasih Ya Allah atas smua karunia dan rahmat Mu, semoga sukses dunia akhirat sedulur amin. Salam damai salam bahagia

    Suka

  16. saya buka puasa paling minum air teh manis anget sama makan kurma.trus sholat maghrib.baru makan paling buat menguatkan saja tdk terlalu banyak.supaya pas tarawih tdk ngantuk

    Suka

  17. apa kabar de war dan sahabat semuanya … lho aku gak tau nih, memangnya masnunub kemana? … aku dari hr senin gak ngantor (cuti seminggu), jadi hp gak ada yg aktif de … serius sy ndak tau ….

    Suka

  18. malam om denwiek salim dulu. @ om dafa waduhkok bisa ndak punya hahahhahahahahhahah gpp om kira2 siapa ya kawijaya itu? salim om bigmoels @ cah ndeso awas jgn ngintip ada semut merah gatel lho hahhahahaha

    Suka

  19. @de war, iya sy minta tlg, sebelum masnunub balik ke negara asal, tlg infokan sy pengen temu dulu lah, ntar beliau nangis kalo ndak temu … hihihihihi …

    Suka

  20. Assalamu’alaikum smuanya… Mbah Denwiek, Pakdhe War, Mas Syahdan, Mas Dafa, Mas Jaya baron, Mas Bigmoel, Mas Cah ndeso, Mas Giri…semuanya salam-salim, moga tansah sehat & sejahtera dhohir & bathin, amin. Ma’af bbrp hr tdk on,…

    Suka

  21. Asalamu alaikun wr wb
    Segeng dalu dan selamat malam
    Mas risang
    Pakde war
    Yang denwik
    Mas dafa
    Mas baron
    Mas shadan
    Mas giri
    Mas sidomulyo kok gak muncul blas Dan saudara bb semua yg sy cintai.absen malam langsung angkrem

    Suka

  22. wa ‘alaikum salam wr.wb. om @sidomulyo, alhamdulillah saya diberi kesehatan oleh allo swt, mudah2an sebaliknya gitu untuk om sidomulyo

    Suka

  23. wa ‘alaikum salam om @sabrang, semoga sehat wal ‘afiat, lancar segala urusannya, dilancarkan rejekinya, dan selalu dalam lindungan alloh ta’ala .. aamiiin.

    Suka

  24. wa ‘alaikum salam om @cah kinyan juga om @By pass, semoga njenengan sekalian diberikan berkah dunia akhirat oleh alloh swt .. aamiiin

    Suka

  25. Mau beramal tantanganya terasa berat, beramal tantanganya niat kecampuran nafsu nimbrung, setelah beramal tantanganya sdh merasa beramal, bahkan ‘ujub min dlm hati. Kl pinjam trademark mas Restu: repot-repot…he…he… Tiada lain semua hanya bs dg peparing & pertolongan Gusti Pengeran. Bulan Romadlon, bln pertolongan krn musuh cm 1, yakni nafsu dr sndiri. Ma’af… Sekedar celoteh, smg ada manfa’at bg sy & sedulur semua, amin.

    Suka

  26. @abah wiek,alhamdulilah udah gak mikir yg ruwet2.just do it katanya bob sadino.@km by pass,alhamdulilah sehat smoga sblknya jenengan.

    Suka

  27. eyank denwiek..salam salim
    kmas sidomulyo..gimana kabarnya..
    Km bypass..wis ganti klambi maneh ta..

    Eyank..klu romadhon ini ada aurod dzikir apa ya eyank di perbanyak.?

    Suka

  28. salam salim smuanya maaf lama ga absen bdn krng sehat bnyk kerjaan ..begini nasib jd kuli suruh ini itu sabar..sabar
    ssmoga mbah,pakdhe,kangmas2 serta sedulur smuanya sehat selalu

    Suka

  29. @de war, wah lg dipamulang ya, hihihihi, sy dah gak ngerti jalanan, mudah2an kalo jodoh ketemu lah.

    @om DAFA, maap ya, kog saya bikin sensasi aja, sekali lg maap, mungkin sy lg ngantuk kali, kog setelah lihat nama om dafa, kog tiba2 ada gambaran istighfar, sekali lg maap om dafa, jgn marah ya.

    Suka

  30. ee ketinggalan
    km sabrang lor..salam pamuji rahayu ..
    Km dafa ..qiqiqi ..lagi mau buat wedang kopi..

    Iya dhe war ..tadi dapat sms mas glodor klu mas nunub lagi di pamulang

    Suka

  31. om @giritirto, bukannya baca qur’an yg dibanyakin om, kalo saya tambah dengan yg ada di artikel semalam, 70 menit saja om …. maap kalo salah.

    Suka

  32. Mas Giri, mas Arif, Pakdhe… Salam salim…Alhamdulillah sahe2 pangestune…@mbah Wiek,… Kalo Njenengan lihat sy ketok nggilani, paling jg istighfar & wayahe her…ya…he…he…he…

    Suka

  33. om @giri, saya dah pikun, sekarang ini, selain ke cisarua, ktr di pramuka, mampang prapatan jaksel, depok (sebagian) diluar itu nyasar

    Suka

  34. ha.ha.ha..belum pakde ..lagi nyeduh kopi..

    Km sidomulyo..gilane piye to..wong piyantun gagah pidekso gitu kok ..nah kalau sy ini kalau di lihat yo mung peteng tejane..

    Suka

  35. Walaikumsalam@km arief,gmn kbrna?@abah wiek,gak pa2 kok bah tp tepat kok.bbrp bln yg lalu….e gak jadi deh.@om sidomulyo,wis jero angele udharane he..he..@om giri sy psn luwaknya..e salah wedange kupi.

    Suka

  36. saya mohon off dulu ya, kalau terdapat berbagai kesalahan, mohon dibukakan pintu maaf yg se-luas2nya, sekian, wassalamu’alaikum wr.wb.

    Suka

  37. km dafa..iki saya lagi bikin jerat mas ..luwak-e iseh anakan ..ini ada kopi cap luwak aleh tuku neng emperan toko ..

    Km sidomulyo..lha inikan cuma gk kena panas srengenge aja la kalau kena tambah semburat..qiqiqi

    Suka

  38. wah belum mbah..tadi sore di kabari mas glondor katanya di pamulang ..coba insyaalloh besok tak cari informan kira2 pamulangnya sebelah mana..
    Km dafa..luwak panganane opo…

    Suka

  39. Salim mas bro @ dafa…klambine do di kumbah tah?..xixixi..kabare apik mas
    Mas @ sidomulyo…salim juga
    Mas @ giri..luwak panganane anak ayam,nek ngombe ne kopi..xixixi
    Mas @ luwak ngeden….salim. Jo ngeden terus,mengko gek wasir …hihihii

    Suka

  40. akeh kang apal qur’an haditse
    Seneng ngafirke marang liyane
    Kafire dewe gk digateke
    Yen iseh peteng ati akale

    .?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?.?

    Suka

  41. absen pagi
    maksih pakdhe atas masukannya,sy lg belajar mensyukuri apa yg diberi gusti alloh pangeran nu sajati tp kdng manusia sk lupa,..mhn ampunanmu ya alloh

    Suka

  42. Orang Jawa tu terlalu fanatik dalam memandang sosok seorang kiyai
    Kalau ente jadi muslim yang hidup di luar Jawa tentu ente bisa lebih netral dalam memandang mereka sebagai manusia biasa dalam derajat makhluk.
    Ziarah kubur di Jawa juga terlalu berlebihan … perlu banyak bimbingan dan pencerahan dari para ustad yang mengerti ilu agama secara mendalam agar umat isalam tidak terjebak dalam sikap musryik yang tak disadari

    Suka

  43. jgn su’udzon orang sok tahu..ulama ulama luar negeri saja mengakui.la dibumi nusantara indonesia ini wali allah tertua saja pada di jawa umumnya ..coba tanya gurumu.la kalau km diluar aswaja ya maklum saja gak tahu apa apa.

    Suka

  44. cuma neruskan cerita nyata karibku yg tionghwa dan bukan beragama Islam.
    Sebelum Gus Dur wafat, dia mimpi ketemu GusDur, kira kira kejadiannya di bulan Sept/Okt dia tidak ingat jelas, jadi sekitar 3-4 bulan sebelum akhir tahun wafatnya GusDur.
    Waktu itu karibku ini masih kerja di satu pabrik di mojokerto..
    Dalam mimpinya dia memarahi Gus Dur menggunakan bahasa jawa.
    Kurang lebih sebagai berikut : o Allah, Gus.. Gus.. sampeyan dadi uwong iku kesabaren,,,
    (o Allah, Gus.. Gus.. anda jadi orang itu terlalu sabar…)
    Kemudian dijawab oleh Gus Dur dengan tertawa sambil berkata sbb:
    Ha ha..yg bisa ngomong gini cuma trahe guru…
    Kemudian pelayan (laki laki) Gus Dur datang dan menyuguhkan teh manis dalam nampan ke karibku tsb dengan sopan dan senyuman ramah…
    Lalu dia sudah tidak ingat isi pembicaraan selanjutnya dg GusDur..
    Yang dia ingat sampai sekarang adalah, waktu bangun dia langsung punya perasaan sangat kuat bahwa GusDur cuma akan sampai akhir tahun tersebut dan ada rasa heran koq GusDur bisa tahu kalo karibku itu memang anak dari pasangan guru sekolah dan koq bisa bisanya dia sampai mimpi ketemu GusDur karena walaupun dia sangat mengagumi GusDur tapi dia tidak pernah punya keinginan ketemu langsung dan diapun mengakui kalo pernah dua kali berpapasan dg GusDur di bandara udara waktu dia sedang ditugaskan kantornya ke Jakarta (dulu) dan dia cuma berjarak cuma 1 – 2 meter dari kursi roda yg membawa GusDur tapi diapun tidak pernah berani menyapa karena dia minder..
    Dia merasa bahwa dia sebagai orang yg bermata sipit yg cuma pegawai, bukan usahawan, tidak pernah punya keberanian utk ikut ikut cium tangannya/menyapa GusDur..
    Aneh berikutnya adalah pada pagi harinya setelah mimpi tersebut, dia mendengar beberapa anak buahnya yg sedang ada di ruangan kantor sedang membicarakan politik dan menyebut nyebut nama GusDur dan karibku itu tanpa sadar mengatakan pada beberapa anak buahnya kurang lebih sbb : Ati ati, Gus Dur cuma sampek akhir tahun ini…
    Dan beberapa anak buahnya yg akrab langsung nylatu (“menegur”) kurang lebih sbb :
    Sampean ikut kemeruh paak pak….koyok paranormal ae nek ngomong…
    (Anda itu sok tahu pak pak..seperti paranormal saja kalo ngomong)
    Sampean ngomong ngono iku dasare opooo lak ngono..
    (Anda itu ngomong begitu itu dasarnya apa..)
    Bahkan beberapa dari anak buahnya itu ada yg aktivis NU sekaligus paranormal dan ada yg murid dari kiai terkenal…
    Temanku itu langsung menjawab : Yo embuh pokoke ceritone ngono…(ya nggak tahu pokoknya ceritanya begitu..). dan selanjutnya dia menelan saja “caci maki sambil guyon” dari para bawahannya itu dan diapun tidak membahas mimpinya ke siapapun termasuk ke para bawahannya yg ada di kantor waktu itu….
    Dan dia tidak pernah pernah berani menceritakan mimpinya itu sampai waktu pas akhir tahun GusDur wafat langsung para anak buahnya yg dulu rame rame nylatu kemudian rame rame menanyai koq bisa bisanya keluar omongan yg sedemikan tepat menyaingin mama Lorent…
    Baru dia cerita mimpinya tersebut tapi lagi lagi dia dg konyolnya jadi korban “caci maki” karena mimpinya itu kan gak nyambung kalo dianalisa..
    Sampai sekarangpun karibku itu kalo pas sendirian dan kalo pas teringat GusDur jadi sering keluar airmata…Dia pernah cerita kalo istrinya punya teman biksuni dari taiwan yg pangkatnya tinggi dalam hirarki spiritual mereka, pernah menyempatkan ngotot bersama rombongan dari kelompok Budha mereka untuk berziarah ke makam GusDur dan itu benar benar dilakukan…
    Temanku dan istrinya tidak termasuk dalam rombongan mereka karena bukan beragama Budha,
    Cuma mereka semakin yakin kalo Gus Dur itu orang yg benar benar baik dan termasuk wali Allah dan mereka menyayangkan koq kenapa orang orang yg membawa keislaman masih banyak yg melakukan kekerasan atas nama agama…padahal, masih menurut kata karib saya tsb, kalo dilihat di Alfatekah itu yg berkaitan dg sifat Rahman dan Rahim disebutkan sampai dua kali dan Basmallah yg agung itu selalu terkait dg 2 sifat kasih sayang tersebut…bukan dg yg berbau kekerasan…dan itu jelas jelas, sekali lagi masih menurut mereka, dipraktekkan oleh GusDur.
    Lha kan susah kalo orang di luar kelompok Islam saja mengakui kadar kewalian GusDur dalam bentuk lain tapi yg masih “sekelompok” malah bersikap sinis…
    Tapi yg mungkin inilah dunia yg penuh warna…
    Wassalam

    Suka

  45. Menghormati orang2 yg shaleh apalagi yg sudah dianggap KH, Gus, Wali, maka penghormatan itu akan mendapat ridha Allah. Mereka2 itu dipuji sundul langit, dihina ambles bumi keadaan mereka tidak akan berubah. ketika dihina mereka tdk akan mmbalas membenci, ketika dipuji mereka tdk sombong. brsyukurlah org yg hormat, krn Allah akn meridhainya. Amin

    Suka

↓ ungkapan SILATURAHMI .~terima kasih atas kunjungannya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s