NGAJI ”SYUKUR” DARI GATOT

Bersyukur dalam wujud gerakan
lisan mungkin banyak orang
yang bisa melakukannya, yakni
dengan mengucap
‘alhamdulillah”, demikian pula
bersyukur dalam bentuk sedekah melalui acara “makan-
makan” tidak begitu sulit untuk
dilaksanakan. Rasanya masih
cukup langka bila syukur itu
mampu melipatgandakan
motivasi diri untuk berbuat lebih
baik lagi.
Kisah faktual berikut ini semoga
akan mengantarkan penulis dan
para pembaca untuk berupaya
untuk merealisasikan syukur
yang inspiratif dan motivatif.
Selama lima tahun lebih, saya
mengamati ada seseorang yang
unik. Unik dari segi prilaku,
busana dan sikap. Adalah si
Gatot (nama asli, bukan
samaran), seorang paruh baya
yang tinggal di dekat Makam
Aulia’ di Tambak Ngadi Mojo
Kediri. Dia hidup santai meski
makan seadanya dan tidur tak
teratur kapanpun dan
dimanapun, maklum belum
menikah dan tidak punya anak.
Pekerjaannya tidak jelas kadang serabutan,
kadang buruh tani, kadang
menggembala ternak. Laksana
santri, dia biasanya memakai
peci dan sarung kemanapun dia
pergi. Peci yang ia pakai
berwarna hitam kekuningan
saking lamanya, baju yang ia
pakai tentu kelihatan kusut tak
berseterika meski tetap bersih.
Setiap bertemu orang ia selalu tersenyum sambil menyapa
dengan sopannya, memang,
namun sesungguhnya dia
memiliki sikap hidup yang luar
biasa. Bagi dia hidup itu adalah
ibadah dan ibadah. Sejak KH.
Hamim Jazuli (populer dengan
nama Gusmiek, dari Kediri Jatim)
mendirikan Jam’iyyah Semaan
al-Quran “MANTAB” pada
tahun 1989, si Gatot termasuk
peserta paling setia yang belum
ditemukan tandingannya.
Puluhan tahun sudah ia
mengkhidmahkan jasad dan
pikirannya untuk kegiatan
tersebut. Setiap ada acara
khotmil Quran selama
terjangkau dan dia tahu, hampir
pasti dia hadir di sana.
Meskipun durasi acara tersebut
sangat panjang (sekitar 12 jam),
hal itu tak menyurutkan dia
untuk berkonsentrasi penuh di
hadapan al-Quran sambil
menyimak bacaan dari seorang
qori’ mulai awal hingga khatam
30 juz. Tidak hanya itu,
kerapkali dia menghadiri acara
serupa di luar kota yang jauh,
seperti Mojokerto, Nganjuk,
Malang, Jember hingga
Yogyakarta. Pertanyaan yang
muncul, ongkos pulang-
perginya dari mana, di tengah
keterbatasan finansial?
Inilah letak kehebatan dia.
Kemana pun pergi, dia selalu
ditemani sepeda pancal (onthel)
dan jas hujan jelek. Dia rela
menghabiskan tenaganya di
jalan untuk mengonthel sepeda
selama puluhan jam. Saya
pernah bertanya: “ketika ikut
acara semaan al-Quran yang di
kota Malang kira-kira berangkat
jam berapa dari Kediri (berjarak
ratusan kilometer)? Dia
menjawab: “Setelah Ashar saya
sudah berangkat, biasanya
sebelum Shubuh sudah sampai
di lokasi acara”. Hebatnya lagi,
dia melakukan hal semacam ini
bisa tiga sampai empat kali
sebulan di tempat yang
berpindah-pindah. Ternyata dia
melakukan tradisi ngonthel
sejak puluhan tahun lalu hingga
saat ini dan penulis sebulan
sekali bertemu dengan dia.
Tidakkah kita jauh lebih
beruntung daripada si Gatot
dari aspek pendidikan, ekonomi,
kesejahteraan hidup. Tetapi,
seberapa istiqomah dan
gigihnya kita untuk beribadah
dibanding si Gatot? Tidak
malukah kita, dengan fasilitas
hidup yang serba cukup
ternyata berbanding terbalik
dengan kesalehan hidup kita.
Apakah tuhan tidak salah
memberikan rizki, yang malas
ibadah diberi kekayaan, sedang
yang taat diberi kemiskinan.
Imam Junaid al-Baghdadi
pernah mengatakan: “hakekat
syukur adalah bila kita merasa
malu menerima nikmat lantaran
tidak merasa berwenang
mendapatkannya, dengan
banyaknya kemaksiatan,yang
dilakukan.” Beranikah kita
berdoa kepada Allah, agar
kekayaan dan kesehatan kita
diberikan saja kepada orang
yang lebih berhak, yakni orang
yang lebih sholeh akan tetapi
serba kekurangan. Kalau kita
merasa nyaman saja dengan
nikmat Allah, sementara syukur
kita jauh dari harapan, ibadah
kita tak pernah meningkat,
maka khawatir nikmat itu
berubah menjadi
“istidraj” (Allah membiarkan kita
melakukan kemaksiatan
sepuasnya, agar nanti
mendapatkan azab yang lebih
pedih), naudzubillah min dzalik!
Melihat sosok Gatot, teringat
nyanyian Rhoma Irama: lebih
baik jalan kaki tapi punya harga
diri daripada bersedan tanpa
kehormatan. Kita mungkin
punya ilmu selangit, harta
berlebih, tubuh bugar, tapi
moral bobrok, kepedulian pada
sesama rapuh, ibadah juga
tunggu butuh. Jangan-jangan
kelak nanti di akherat kita
menjadi jongos, buruh dari sang
bos yang bernama Gatot. Ya
Allah jadikan saya seperti dia
yang ikhlas, lugu, polos, lurus di
jalan-mu, jika belum mampu
ampunilah, kami hanya punya
keinginan dan kecintaan untuk
meniru mereka hambamu
terpilih.

~Syafaat~

Iklan

65 thoughts on “NGAJI ”SYUKUR” DARI GATOT”

  1. KALO SAYA MAH TIDAK BISA KOMETAR
    ISTRI BESOK DIBAWA BERPBAT JAM SABARAHA NYA NAEK NAONNYA
    TI SUKABUMI KA CIANJUR ,NAEK TAXSI DI SUKABUMI TEU AYA TAXSI NAIK SEPURTEU AYA KERETA API
    CILINTRIK TULUNGAN AKANG LAIN KABUR ENGKE DI KIRIM MOCI GANG KENARI
    JEUNG TAHU AKANG ISUKAN MEULI TAUCONA KA CIANJUR KANG BAJA HOYONG TEU ,WICAKSONO SALAM KENAL DI MANA LINGGIH TEH
    SALAM RAHAYU

    Suka

  2. KANG BAYU SELAMAT MALAM ITU TEH ALAMAT OPO KANG
    ITU BUKAN TERAPI AL QURAN YANG KANG BAYU REKAM /
    kang BAYU BUKAN SAYA KURANG HORMAT KARENA BESOK HRUS BAWA IISTRI BEROBAT JADI AKANG DI TINGGL DULU DOA KAN YA KANG
    AMIT MUNDUR KANG WASALAM

    Suka

    1. terapy alquran yg mana ya..yg ke2 untuk jantun,penyumbatan,.kalau itu sebenarnya sudah jadi tapi tadi siang tak cek lagi ternyata ada yg kurang dan kelebihan…waduh mas buat lagi dari awal filenya banyak bukan main.sudah diusahan kualitas medium standar tapi kok msh besar 65mb.tadi sudah jadi lagi e alah sampai mata sepet,leher kaku,.diputar e alah kok gak bisa di putar sudah di oprek2 filenya tetap gak bisa diputar.hah..dilanjut besok lagi mas..tunggu saja.

      Suka

  3. melihat kisah di atas ada pelajaranyg bisa di petik:
    -bagi yg belum nikah n keadaan ekonomi serupa om Gatot…jadikan motovasi agar tidak nglokro dlm ibadah….
    -bagi yg sudah pathing trembel anake akeh dan ekonomi jga pas2an bisa mengambil semangat dari kisah di atas dan di terjemahkan dlm bentuk laen yg passs…..jgn malah bilang”iyo wae koe rung nduwe anak bojo kok lee…jajal nek anakmu kemriyek koyo aku rak ra kober ngaji kowe!!!”….hehehehe
    -bagi yg merasa nasibnya lebih baik ….moga jadi penyemangat untuk melakukan ibadah yg lebih baik lagi..dan silahkan melakoni peranya masing2…..tidak harus menjual mobilnya dan mengganti dgn sepeda onthel….,mengko ndak boyoke umat…hehehe
    nyuwun ngapunten bilih khathah lepatipun….salam semua sedulur SBM dan salut buat om Gatot dlm kisah nyata ini…semoga mendapat limpahan berkah dan rahmat NYA amin…..

    Suka

↓ ungkapan SILATURAHMI .~terima kasih atas kunjungannya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s